WAYANG DI
INDONESIA
Disusun oleh :
Merryta Bintang Sukendar ( 14315144 )
1TA04
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAAN
JURUSAN S1 TEKNIK SIPIL
MATAKULIAH : ILMU SOSIAL DASAR
DOSEN : EMILIANSHAH BANOWO
2016
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................... 2
BAB I PENDAHULUAN.......................................................................................... 3
BAB II ISI................................................................................................................... 5
BAB III PENUTUP.................................................................................................. 10
DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................. 12
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada
Tuhan Yang Maha Esa atas selesainya makalah yang berjudul "Masuknya Budaya
Barat Ke Indonesia ". Atas dukungan moral dan materil yang diberikan dalam
penyusunan makalah ini, maka penulis mengucapkan banyak terimakasih kepada
1. Bapak Emilianshah Banowo
sebagai dosen Ilmu Sosal Dasar, yang memberikan kesempatan pada penulis untuk
membuat makalah ini.
2. Orang tua ku yang selalu
mendukungku dan memberiku nasihat dalam keadaan apapun.
Penulis menyadari bahwa makalah ini belumlah
sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan
sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Penulis
2
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Di zaman yang modern ini, banyak sekali
budaya bangsa seperti wayang kulit yang kurang diperhatikan. Hal ini
menyebabkan kreasi budaya bangsa yang menurun akibat kurangnya generasi muda
yang kurang meminati budaya bangsa sendiri. Akibatnya, ada bangsa lain yang
ingin memanfaatkan sekaligus melesatarikan budaya wayang kulit, bahkan mengakui
budaya wayang kulit adalah budayanya, padahal wayang kulit adalah budaya asli
indonesia.
Wayang
kulit adalah kesenian tradisional Indonesia yang tumbuh dan berkembang di
kalangan masyarakat jawa. Kesenian ini banyak ditampilkan ketika ada sebuah
perhelatan seperti pesta dan sebagainya. Ternyata, wayang kulit tidak hanya
dijadikan sebagai sebuah pertunjukan melainkan juga digunakan sebagai media
untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa.Wayang kulit diyakini sebagai
awal dari berbagai jenis wayang yang berkembang saat ini. Wayang jenis ini
terbuat dari lembaran kulit kerbau yang sudah dikeringkan sebelumnya. Wayang
kulit dibentuik sedemikian rupa agar membuat geraknya menjadi dinamis.
Asal
mula kesenian wayang kulit ini, tidak lepas dari sejarah wayang itu sendiri.
Wayang berasal dari sebuah kalimat yang berbunyi “Ma Hyang” yang berarti
berjalan menuju yang maha tinggi (bisa diartikan sebagai roh, Tuhan, ataupun
Dewa). Akan tetapi, sebagian orang mengartikan bahwa wayang berasal dari bahasa
jawa yang berarti bayangan.
Hal tersebut dikarenakan ketika penonton
menyaksikan pertunjukan ini mereka hanya melihat bayangan yang digerakkan oleh
para dalang yang juga merangkap tugas sebagai narator. Dalang merupakan singkatan dari kata-kata ngudhal
piwulang. Ngudhal berarti
menyebarluaskan atau membuka dan piwulang berarti pendidikan atau ilmu.
3
Hal
tersebut menegaskan bahwa posisi dalang adalah sebagai orang yang mempunyai
ilmu yang lebih serta membagikannya kepada para penonton yang menyaksikan
pertunjukan wayang tersebut.
Ada banyak karakter yang
terdapat dalam wayang. Nah di dalam salah satu karakter yang ad di wayang Jawa
hidup sebuah karakter yang disebut Punakawan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas dapat di rumuskan
permasalahan sebagai berikut:
1.
Apakah yang di maksud dengan wayang ?
2. Bagaimana sejarah wayang di Indonesia
?
3. Apakah yang di maksud dengan
punakawan ?
C. Tujuan
Sesuai dengan permasalahan diatas tujuan yang
dicapai dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Mengetahui
sejarah wayang di Indonesia
2. Mengetahui
apa itu wayang
3. Mengenal
salah satu kebudayaan Indonesia
4
ISI
A.
Pengertian
Wayang
Wayang adalah sebuah seni pertunjukkan
Indonesia yang berkembang pesat dan telah diakui dunia karena keunikan yang
dimilikinya. Sama seperti Batik, UNESCO pada 7 November 2003 juga telah
menobatkan wayang sebagai Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of
Humanity atau warisan mahakarya dunia yang tak ternilai dalam seni bertutur
asli Indonesia. Seni pertunjukan wayang sendiri disukai oleh semua lapisan
masyarakat. Bukan hanya di Jawa, kini wayang juga akrab dan sering disajikan di
acara-acara sakral di seluruh dunia.
Dalam bahasa Jawa, kata wayang berarti “bayangan”.
Jika ditinjau dari arti filsafatnya, “wayang” dapat diartikan sebagai bayangan
atau merupakan pencerminan dari sifat-sifat yang ada dari dalam jiwa
manusia. Sifat-sifat yang dimaksud antara lain seperti watak angkara
murka, kebajikan, serakah, dan lain sebagainya.
Wayang dimainkan oleh seorang dalang
yang dibantu oleh beberapa orang penabuh gamelan dan satu atau dua orang
waranggana sebagai vokalisnya. Fungsi dalang di sini adalah mengatur
jalannya pertunjukan secara keseluruhan. Dalang memimpin semua komponen
pertunjukan untuk luluh dalam alur ceritera yang disajikan.
Ragam Wayang : Mengenai jenis wayang yang dikenal oleh masyarakat
Jawa, ternyata ada beberapa jenis wayang, meliputi ; Wayang Kulit
(Purwa), Wayang Klithik, Wayang Golek, Wayang Beber, Wayang Orang dan Wayang
Suket.
5
B.
Sejarah Wayang
di indonesia
Wayang merupakan suatu bentuk karya seni
budaya yang adiluhur dan sarat dengan kandungan nilai falsafah dan merupakan
peninggalan asli milik bangsa Indonesia. UNESCO sendiri sudah menetapkan wayang
sebagai warisan pusaka dunia yang berasal dari Indonesia pada tanggal 7
November 2003 lalu. Wayang berasal dari kata “Wayangan” yang memiliki makna
sebuah penggambaran wujud tokoh serta cerita agar bisa tergambar dengan jelas
dalam batin si penggambar karena wujud aslinya telah hilang.
Wayang adalah kebudayaan tertua dan asli
dari Indonesia. Pertunjukkannya sendiri sudah dikenal di Indonesia sejak zaman
Neolitikum atau sekitar tahun 1500 SM, jauh sebelum kedatangan orang-orang
Hindu. Prasasti tertua yang memberikan informasi tentang pewayangan di
Indonesia berasal dari prasasti pada masa pemerintahan Raja Airlangga, yakni
pada abad ke-10 Masehi. Awalnya, wayang merupakan suatu bentuk bagian dari
kegiatan menyembah Sang Hyang dan biasa dilakukan pada saat masa panen maupun
masa bercocok tanam yang dilakukan dalam bentuk upacara Ruwatan, Tingkeban
maupun Merti Desa dengan harapan agar panen berhasil maupun agar terhindar dari
segala bentuk macam musibah. Baru pada tahun 898-910 Masehi, wayang sudah
menjadi wayang purwa, namun masih mempunyai fungsi yang sama yakni ditujukan
untuk menyembang Sang Hyang. Kemudian pada prosesnya, seni budaya wayang ini
semakin dikembangkan pada zaman masuknya agama Hindu, hingga terjadi
pembaharuan lagi pada zaman masuknya agama Islam di Indonesia.
Kebudayaan wayang di Indonesia memang
sudah banyak diteliti oleh para cendekiawan dan budayawan baik dari dalam
maupun dari luar negeri. Terdapat persamaan pendapat, namun tidak sedikit juga
yang berbeda pendapat. Walaupun begitu, semuanya sependapat bahwa wayang di
Indonesia sudah ada dan berkembang di Indonesia sejak zaman kuno, yakni sekitar
tahun 1500 SM, jauh sebelum agama dan budaya luar masuk ke Indonesia. Jadi
wayang dalam bentuknya yang masih sangat sederhana merupakan budaya asli dari
Indonesia dimana pada prosesnya budaya ini semakin berkembang setelah
bersentuhan dengan unsur-unsur lain sehingga wujud beserta isinya seperti yang
kita ketahui saat ini.
6
Tidak dapat dipungkiri bahwa sebuah seni
budaya akan selalu berubah dan berkembang mengikuti perubahan zaman. Wayang
yang ada saat ini berbeda dengan wayang yang ada di masa lalu dan bisa jadi
juga wayang di masa depan akan berubah sesuai zamannya. Namun perubahan seni
budaya wayang ini tetap tidak berpengaruh pada jati dirinya yang telah tertanam
dalam sejarah wayang itu sendiri karena wayang telah memiliki landasan utama
yang sangat kokoh. Landasan utama itu terdiri dari tiga, yaitu adalah sifat
Hamot: kemampuan dan keterbukaan budaya ini untuk menerima pengaruh dan masukan
dari dalam maupun luar, Hamong: kemampuan untuk menyaring unsur-unsur baru
tersebut sesuai dengan nilai-nilai wayang yang ada, dan Hamemangkat: kemampuan
mengangkat suatu nilai menjadi nilai baru yang sesuai dengan nilai-nilai
wayang sehingga menyebabkannya memiliki daya tahan serta daya kembang
wayang yang mengikuti perubahan dan perkembangan zaman.
C.
Pengertian Punakawan
Punakawan adalah karakter yang unik dan
khas dalam pewayangan Indonesia. Mereka melambangkan orang kebanyakan.Karakternya
memuat bermacam-macam peran seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritis sosial,
badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan.
Semar, Gareng Petruk, Bagong. Karakter Punakawan ini memang tidak ada dalam versi
asli mitologi Hindu epik Mahabarata dari India. Punakawan adalah modifikasi
atas sistem penyebaran ajaran-ajaran Islam oleh Sunan Kalijogo dalam sejarah
penyebarannya di Indonesia terutama di Pulau Jawa. Walaupun sebenarnya pendapat
ini pun masih diperdebatkan oleh banyak pihak.Jika melihat ke biografi
karakter-karakter Punakawan, mereka asalnya adalah orang-orang yang menjalani metamorfosis (perubahan
karakter yang berangsur-angsur) hingga menjadi sosok yang sederhana namun
memiliki kedalaman ilmu yang luar biasa.
7
·
Semar ( Sang
Bapak )
Semar merupakan pusat dari punakawan
sendiri dan asal usul dari keseluruhan punakawan itu sendiri. Semar disegani
oleh kawan maupun lawan, karena Semar adalah perwujudan Sang Hyang Ismaya yang
menjadi manusia. Ismaya adalah simbol dewa yang menjadi manusia karena
keinginannya menguasai dunia, berbeda dengan Manikmaya yang hanya patuh atau
sebaliknya Sang Hyang Antaga yang memiliki keinginan sama dengan Sang Hyang
Ismaya. Setelah Sang Hyang Ismaya menjadi manusia yang buruk dan bertubuh
gendut maka berjalanlah ke bumi memenuhin tugasnya mengabdi pada satria yang
menegakkan keadilan dan memerangi angkara murka.
·
Gareng ( Hati
yang tidak boleh kering )
Gareng adalah anak pertama Semar. Gareng
konon berasal dari batang kayu kering, kemudian dijadikan Semar yang merasa
kesepian di bumi menjadi anaknya . Nalagareng
adalah seorang yang tak pandai bicara, apa yang dikatakannya kedang-kadang
serba salah , tetapi dia sangat lucu dan menggelikan.Ia pernah menjadi raja di
Paranggumiwang dan bernama Pandubergola. Ia diangkat sebagai raja atas
nama Dewi Subadra, bahkan ia sangat sakti dan hanya bisa dikalahkan oleh Petruk
·
Petruk (
Kecerdasan yang rendah hati )
Petruk adalah anak kedua Semar. Petruk
berasal dari jin atau genderuwo yaitu mahluk halus yang nakal dan cerdas. Petruk
memiliki peran yang cukup menonjol di samping cara berbicaranya seperti
satria,. Beda dengan Gareng atau Bagong yang disengaukan oleh Sang Dalang, maka
Petruk berbicara lantang dan terkadang kelewat berani.Lakon yang digemari
adalah Petruk jadi Ratu. Dalam lakon ini Petruk mendapat kesempatan menemukan
pusaka " Jamus Kalimasada " milik Prabu Darmakusuma atau Puntadewa
yang meninggalkan pemiliknya karena sang pemilik meninggalkan amalan-amalan
yang menjadi syaratnya. Amalan pertama, sang pemilik harus memiliki iman kepada
Tuhan Yang Maha Esa. Kedua, percaya kepada Rasul-Nya, ketiga percaya pada
malaikat-nya, Empat Kitab-Nya, dan terakhir beriman pada Qadha dan Qadar.
8
·
Bagong (
Bayangan Semar )
Bagong adalah punakawan Jawa. Dalam
wayang Sunda dikenal nama Cepot. Bagong adalah anak bungsu Semar atau punakawan
ke 4. Dalam cerita pewayangan, Bagong adalah tokoh yang diciptakan dari
bayangan Semar. Bagong bertumbuh tambun gemuk seperti halnya Semar. Namun
seperti anak-anak semar yang lain, Bagong juga suka bercanda bahkan saat
menghadapi persoalan yang teramat serius selain itu bagong juga memiliki sifat
lancang dan suka berlagak bodoh Bagog berarti bayangan
semar. Alkisah ketika diturunkan ke dunia, Dewa bersabda kepada semar bahwa
bayangannya lah yang akan menjadi temannya. Seketika itu juga bayangannya
berubah wujud menjadi bagong .
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Wayang adalah kesenian indonesia khas jawa yang
dipertunjukkan lewat sebuah layar yang disoroti oleh lampu, dan cara melihatnya
melalui bayang – bayangnya. Wayang ada yang terbuat dari kulit binatang, dan
kayu. Fungsi wayang sangat sentral, selain sebagai media hiburan, wayang juga
berperan dalam penyebaran agama islam pada masa wali songo yang disebarkan oleh
sunan kali jaga. Dalam pertunjukan wayang banyak nilai – nilai moral dan
pendidikan yang disisipkan dalang, sebagai pembelajaran bagi penonton. Namun
adanya perkembangan zaman yang semakin modern, banyak generasi muda yang lebih
menyukai budaya luar yang lebih modern, dari pada budaya wayang kulit yang
terlihat kuno. Selain karena perkembangan zaman yang mulai menggeser kedudukan
wayang, ada beberapa faktor penyebab wayang kulit itu hampir punah dalam
kehidupan sosial, penyebabnya antara lain: karena durasi wayang yang terlalu
lama, pengemasan wayang kulit yang monoton, bahasa yang sulit dipahami karena
menggunakan bahasa krama inggil dan banyaknya alternatif hiburan lain
yang lebih praktis.
B.
Saran
Indonesia
memiliki banyak sekali kebudayaan dari barat hingga timur. Dengan banyaknya kebudayaan yang
dimiliki, sepatutnya masyarakat Indonesia menjaga apa yang telah dijaga selama
beberapa generasi. Makna menjaga, tidak hanya sekadar menaruh berbagai bentuk
kebudayaan, terutama wayang, di dalam museum. Namun yang paling penting adalah
bagaimana kita menjaga eksistensi kebudayaan yang kita miliki sehingga seluruh
masyarakat Indonesia,
10
bahkan
dunia, mengenal bahwa Indonesia memiliki kebudayaan yang dimaksud. Apalagi
wayang, sebagai salah satu kebudayaan asli Indonesia, memiliki nilai-nilai
kehidupan pada setiap pertunjukannya. Hal ini sekaligus dapat mendidik
masyarakat Indonesia dalam menjalani kehidupan.
DAFTAR
PUSTAKA
12